Opini oleh:
Saiful Huda Ems (SHE) - Lawyer dan Analis Politik, Aktivis 98
Sudah sebulan lebih ini, terhitung sejak 20 Februari 2025,
Sekjen PDIP Mas Hasto Kristiyanto telah ditahan oleh KPK, untuk suatu dakwaan
yang sangat tidak berdasar, berubah-ubah, tidak ada bukti valid hingga terkesan
sangat mengada-ada.
Betapa tidak demikian, selain beberapa saksi seperti
Agustiani Tiofridelina yang menolak hendak disuap 2 miliar oleh KPK, agar
kesaksiannya bisa memberatkan Mas Hasto, dakwaan KPK terhadap Mas Hasto juga
hanyalah pengulangan perkara yang sudah inkracht atau berkekuatan hukum tetap,
dan para pelakunya sudah mendapatkan hukumannya masing-masing dalam Pengadilan
Tipikor pada PN Jakarta Pusat tahun 2020.
Sejak semula kami (saya dan Mas Hasto Kristiyanto) sudah
menduga, bahwa Mas Hasto akan dijadikan target operasi khusus rezim Jokowi yang
kami lawan. Hal itu telah disampaikan oleh Mas Hasto kepada saya, sekitar 3
hari setelah Pilpres 2024. Atau sekitar tanggal 15 Februari 2024.
"Mas, saya lagi dijadikan target". Kata Mas Hasto
pada saya ketika itu. "Oleh KPK, Mas?". Tanya saya. "Ya,
begitulah". Jawab Mas Hasto. "Astaghfirullah...tenang Mas, itu
berarti kritik-kritik Mas Hasto selama ini telah mengena tepat di jantungnya
Jokowi. Kalau di zaman Orde Baru orang-orang kritis itu di PKI kan, di zaman
sekarang di KPK kan. Sabar saja". Kata saya pada Mas Hasto ketika itu.
"Tapi saya akan lawan Mas, saya tidak akan diam, karena
saya tidak bersalah apa-apa. Sebetulnya saya sudah diancam sejak Agustus
2023". Jelas Mas Hasto. "Ya...ya...saya faham Mas, semoga Mas Hasto
dilindungi Gusti Allah". Kata saya.
Itu merupakan pertemuan pertama saya dengan Mas Hasto,
politisi papan atas di negeri ini yang sangat ramah dan rendah hati, serta
gemar berdiskusi soal politik dan sejarah. Setiap kami bertemu, beliau selalu
terlebih dahulu menyuguhi saya beberapa buku sejarah untuk saya baca dan
diskusikan bersamanya.
Pada awalnya saya sebenarnya agak pesimis dengan tokoh-tokoh
politisi Indonesia kontemporer, yang biasanya sangat pragmatis, oportunis dan
membuang jauh ideologinya. Mirip dengan Jokowi yang pernah diungkapkannya
secara terang-terangan pada Rieke Diah Pitaloka.
Namun tidak demikian dengan Mas Hasto, Sekjen partai politik
terbesar (PDIP) dan pemenang Pemilu 3x berturut-turut ini, Mas Hasto
Kristiyanto itu pemikir besar, pelahap banyak buku dan sangat serius melakukan
pelembagaan partai. Karenanya jangan heran jika Ibu Megawati Soekarno Putri
sangat mempercayai kapabilitas dan integritas Mas Hasto Kristiyanto ini.
Di tangan Mas Hasto Kristiyanto PDIP maju pesat menjadi
partai modern dan terbuka. "Mas, ini kantor yang dahulu diserbu
antek-antek ORBA ya? Saya dulu sering nongkrong disini, tapi sekarang kok jadi
kantor yang bagus dan megah sekali, sampai saya tadi nyaris tak lagi mengenali
tempat ini". Iya Mas, ini kantor yang dahulu diserbu". Jawab Mas
Hasto. "Luar biasa, alhamdulillah". Kata saya.
Perbincangan di atas itu adalah perbincangan ketika saya
bertemu Mas Hasto untuk yang kedua kalinya. Dalam kesempatan itu saya diajak
Mas Hasto untuk melihat beberapa ruangan yang dijadikan tempat kegiatan partai.
Luar biasa sekali perkembangannya partai ini.
Sejak saat itu, saya diajak bertemu oleh Mas Hasto
berkali-kali dan berdiskusi banyak hal soal Republik ini. Waow, sungguh ini
merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi saya, aktivis yang sudah puluhan
tahun terpinggirkan oleh keangkuhan pemerintah, yang lebih gemar merampok
daripada memperjuangkan nasib rakyatnya.
Sekarang ketika Sekjen partai yang sangat ramah, visioner
dan berkomitmen kuat untuk memajukan negerinya itu ditahan oleh KPK untuk kasus
yang seratus rupiahpun negara tak dirugikannya, saya perhatikan kok orang-orang
hebat (elite-elite PDIP) itu nyaris tidak ada yang berani bersuara untuk
membelanya?.
Ada apa dengan mereka, elite-elite PDIP ini? Kenapa hanya
kader-kader PDIP seperti Adian Napitupulu, Deddy Sitorus dan sedikit lainnya
yang bersuara, kemana yang lain-lainnya, yang populer-populer itu?! Takutkah
mereka bersuara karena tertekan oleh ancaman Jokowi?
Tidak seharusnya Mas Hasto Kristiyanto itu dibiarkan
berjuang sendirian, menghantam benteng-benteng kerakusan dan keangkuhan Jokowi
yang sekarang dipelihara oleh Rezim Prabowo Subianto. Lupakah mereka, bahwa
tanpa perjuangan keras Mas Hasto sebagai Sekjen PDIP, rasanya kecil sekali
kemungkinan mereka bisa berjaya seperti sekarang ini?!.
Ketahuilah, Mas Hasto Kristiyanto itu ditahan oleh KPK bukan
untuk kasus korupsi besar, melainkan kasus suap recehan, yang sebenarnya juga
sangat dipaksakan dakwaannya, karena beliau sangat nyata tidak pernah
melakukannya.
Apakah untuk kasus recehan seperti ini elite-elite PDIP tak
berani bersuara untuk membelanya? Bukankah kasus recehan yang demikian menjadi
bukti, bahwa sebenarnya Jokowi tidak mampu untuk mencari kesalahannya yang
lebih besar dan memang sepertinya tak pernah Mas Hasto lakukan? Lalu kenapa untuk
kasus yang begini saja kalian tak berani bersuara?!...(SHE).