Perumahan MBR, MBG dan Hilirisasi, Mengapa Pengusaha TerCuan di RI Belum Berkontribusi?

Perumahan MBR, MBG dan Hilirisasi, Mengapa Pengusaha TerCuan di RI Belum Berkontribusi?



Opini oleh  Salamuddin Daeng- Pengamat Ekonomi

Kelihatanya banyak perusahaan yang engan dengan program pemerintah baru. Apa buktinya? Sampai saat ini belum tampak perusahaan paling cuan di Republik Indonesia mau mengambil hati pemerintah dengan cara ambil bagian atau andil dalam program paling prioritas pemerintahan baru. Padahal pemerintah maunya yang baik baik. 

Seharusnya perusahaan ikut masuk, ikut kontribusi, ikut andil, baik diminta atau tidak diminta. Karena hal itu membuktikan bahwa pengusaha tersebut mendukung pemerintah. Namun sampai sekarang dukungan itu belum tampak.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pemerintah itu memiliki tiga program paling prioritas untuk memompa pertumbuhan ekonomi 8 persen, yakni pertama, Makan Bergizi Gratis (MBG), kedua program tiga juta rumah untuk Masyarakat Berpendapat Rendah (MBR) dan ketiga hilirisasi ekonomi dalam rangka menciptakan value added atau nilai tambah ekonomi. 

Para pengusaha yang besar mengetahui hal itu dan seharusnya mereka ikut berkontribusi. karena semua program prioritas tersebut baik buat negara dan juga baik buat pengusaha itu sendiri.

Tiga program prioritas pemerintahan Prabowo Gibran ini adalah program paling merakyat yang dilakukan sebuah pemerintahan di Indonesia, karena akan memberi makan bergizi setiap hari kepada lebih dari 80 juta anak anak Indonesia, memberi rumah bagi setidaknya 12-15 juta orang dan melakukan hilirisasi, pengolahan atau industrialisasi dalam menyerap jutaan tenaga kerja dan menciptakan pekerjaan bagi jutaan orang. 

Anehnya ini belum dipandang sebagai kesempatan emas oleh para pengusaha paling cuan di sektor tembakau, sektor sumber daya alam sawit, tambang, migas dan perusahan raksasa pangan untuk berkontribusi. Padahal inilah kesempatannya.

Ada beberapa sebab pengusaha pengusaha kakap nasional enggan atau belum berkontribusi sampai hari ini terhadap tiga program pemerintahan tersebut

1) Mungkin sejak semula pengusaha tersebut apriori terhadap pemerintahan. Mereka tidak peduli siapapun pemerintahan, pengusaha hanya peduli apakah cuan atau tidak.

2) Pengusaha tersebut mungkin adalah pendukung kandidat yang kalah dan sampai saat ini masih menyimpan dendam, sehingga dalam hati berharap kondisi ekonomi berantakan sehingga pemerintahan ini gagal.

3) pengusaha dalam kelompok yang wait and see atau lihat lihat dulu, kalau ada peluang dapat dia ambil dari pemerintahan ini maka akan mendukungnya, sebaliknya kalau tidak ada peluang dia kabur aja dulu.

Tiga tipikal pengusaha ini perlu direnungkan oleh Presiden Prabowo bagaimana mengambil sikap kepada mereka.

Padahal dulu kita membayangkan begitu Presiden prabowo terpilih maka berbondong bondong pengusaha seiring sejalan dengan program pemerintah terutama program prioritas yang disebutkan di atas. 

Namun kelompok perusahaan terbesar dan paling cuan di republik ini seperti perusahaan rokok, perusahaan sawit, perusahaan tambang batubara dan perusahaan minyak belum menunjukkan dukungannya pada program pemerintah. Hal ini terlihat belum ada publikasi media yang menunjukkan mereka ikut dalam program MBG, rumah MBR, dan hilirisasi. Ada apa gerangan? bukankah pengusaha paling cuan itu mampu ikut berkontribusi?

Seharusnya pengusaha terkaya atau ter-cuan se Indonesia mulai menjalankan Politik Etis. Politik ini pernah di suatu masa dijalankan oleh pemerintah Hindia Belanda di Indonesia dalam usaha meningkatkan kualitas SDM bagi tenaga yang dibutuhkan pemerintah kolonial.

Seharusnya sekarang pengusaha menjalankan politik Etis, setelah puluhan tahun mengambil cuan dalam ekonomi Indonesia, mengeruk sumber daya alam, dan mengeruk uang melalui perdagangan. Caranya yakni masuk dalam program paling inclusive yakni MBG, perumahan MBR dan Hilirisasi. Karena ini akan menjadi kekuatan penggerak ekonomi dan sekaligus loncatan bagi masa depan Indonesia.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال