JAKARTA - Upaya
intervensi BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah menimbulkan beban biaya
yang besar. Nilai tukar rupiah pada akhir tahun
semestinya dapat kembali di kisaran Rp 16.000 per dollar AS apabila diikuti
dengan reformasi struktural.
Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta,
Achmad Nur Hidayat, berpendapat, biaya intervensi yang dikeluarkan oleh BI
untuk stabilitasi nilai tukar rupiah termasuk mahal. Namun, upaya tersebut
terbilang sia-sia karena pada akhirnya rupiah tetap melemah.
Siswa-
siswi TK melakukan kunjungan ke Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di
Jakarta, Senin (30/1/2023). Kegiatan
edukasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai keuangan dan
investasi di pasar modal sejak dini.
Pada 27 Maret 2025, rupiah dibuka di level Rp 16.590 per
dollar AS atau lebih kuat 0,1 persen dari penutupan sebelumnya, setelah BI
menghabiskan 1,6 miliar dollar AS untuk mengintervensi pasar spot dalam tiga
hari terakhir. Rupiah pun kembali melemah ke level Rp 16.640 per dollar AS pada
sesi siang.
”Data ini mengonfirmasi pola boros BI. Setiap 1 miliar
dollar AS yang dihabiskan untuk intervensi langsung hanya mampu menguatkan
rupiah maksimal 0,5 persen dan efeknya lenyap dalam 1-2 hari,” kata Achmad,
Minggu (30/3/2025).
Setiap 1 miliar dollar AS yang dihabiskan untuk intervensi
langsung hanya mampu menguatkan rupiah maksimal 0,5 persen dan efeknya lenyap
dalam 1-2 hari. Sejak Januari
2025, BI telah menghabiskan 4,5 miliar dollar AS atau 3 persen dari total
cadangan devisa.
Ini tampak dari penurunan akumulasi cadangan devisa per
Februari 2025 yang turun menjadi 154,5 miliar dollar AS dari 156,1 miliar
dollar AS pada Januari 2025. Ditambah pula biaya intervensi 1,6 miliar dollar
AS-3 miliar dollar AS pada Maret 2025.
Sumber:
https://www.kompas.id/artikel/libur-lebaran-dan-depresiasi-rupiah-yang-melebar