Hentikan Harapan Palsu Dunia Islam

Hentikan Harapan Palsu Dunia Islam

 


Shamsi Ali Al-Kajangi

Ramadan seharusnya adalah bulan yang damai, mendamaikan dan menentramkan bagi umat Islam, termasuk mereka yang di Palestina. Namun semua itu hanya harapan, bak mimpi indah yang tak kunjung menjadi realita. Bagi warga Palestina khususnya di Gaza bulan Ramadan ini adalah bulan pengorbanan dan syahadah. Bahkan di hari Raya Idul Fitri oleh warga Gaza menjadi  hari  pertumpahan darah dan pengorbanan jiwa. 


Pada sisi lain dunia Islam seolah ikut terbawa arus “menormalkan” pembantaian dan genosida ini. Hampir kita tidak dengarkan reaksi dari dunia Islam. Baik pada tataran masyarakat apalagi pemerintahan. Para penguasa di dunia Islam yang seharusnya memiliki wewenang dan kapasitas untuk berbuat, sebagaimana tradisi usang mereka, hanya mampu mengumbar kutukan. Mereka naif dan tak berdaya untuk merespon dengan sesuatu yang nyata untuk menghentikan pembantaian itu. 


Sementara itu, di dunia Barat suara-suara kritis yang selama ini mengeras khususnya di kalangan masyarakat muda, termasuk para mahasiswa di berbagai universitas di bungkam oleh kekuasaan rasis yang radikal, termasuk di Amerika dan Jerman. Di Amerika misalnya beberapa aktifis pro-Palestina di berbagai universitas ditangkap bahkan jika non citizen dideportasi.


Kesemua ini menggambarkan bahwa secara manusiawi permasalahan Palestina, khususnya Gaza, hanya semakin buram. Itu realita yang tak terbantahkan. Bagaimanapun juga “kata iman” yang kita sampaikan setiap saat, hanya harapan-harapan. Memang keimanan tidak akan diragukan. Tapi kenyataan juga harus diakui. Perang Badar itu kenyataan. Tapi perang Uhud juga nyata. Iman mengikat keduanya. Tapi antara Badar dan Uhud ada perbedaan dalam kenyataan. 


Solusi ada di dunia Islam 


Melihat kepada realita yang terjadi dan respon dunia Barat, khususnya Amerika, terhadap penjajahan Israel di Palestina dari awal hingga kini, seharusnya telah membuka mata dunia Islam. Bahwa mereka (Barat) tidak punya niat baik untuk menyelesaikan penjajahan dan kekerasan yang terus berlangsung hingga kini.  Dan selama dunia Islam masih meletakkan harapan kepada mereka, selama itu pula yang terjadi hanya angan-angan dan impian indah yang panjang. 


Karenanya seperti yang sering saya sampaikan berulang kali, Amerika dan Barat jangan diharapkan akan menyelesaikan. Dunia Barat, Amerika khususnya, memiliki permasalahan-permasalahan domestik yang menjadi pertimbangan dalam mengambil sikap politik global. Apalagi berkaitan dengan negara Yahudi Israel, tentu ada pertimbangan yang tidak saja oleh orang umum tidak paham. Tapi dirasakan sebagai merendahkan akal sehat dan pemikiran rasional manusia normal. 


Bagaimana tidak, di Amerika anda bisa mengeritik negara dan pemerintahnya. Hal demikian akan dianggap sebagai kebebasan berpendapat. Diterima secara hukum atau Konstitusi. Bahkan dihargai sebagai bagian dari ekspresi hidupnya demokrasi di negara ini. Tapi ketika anda mengeritik Israel dan pemerintahannya maka anda akan dianggap melanggar aturan atau Konstitusi dan anda harus bersiap-siap ditangkap karena melakukan kejahatan. Sungguh kenyataan yang bagi saya melanggar norma-norma dan akal sehat manusia. Bahkan hal ini sekaligus menggambarkan ketidak normalan sikap Barat dan Amerika ketika berkaitan dengan permasalahan Palestina-Israel. 


Karenanya kembali kepada hal yang ingjn saya garis bawahi, dunia Islam harus menghentikan sikap “tawakkal” (maaf saya meminjam istilah agama) kepada Amerika dan Barat. Solusi itu bukan pada mereka. Tapi ada di tangan Umat dan dunia Islam. Selama dunia Islam menyerahkan solusi itu ke Amerika dan dunia Barat maka bersiap-siaplah menanggung rasa pedih dan kekecewaan yang entah kapan akan berakhir. 


Tentu memang tidak mudah menyelesaikan permasalahan yang telah memakan waktu hampir 80 tahun itu. Apalagi melibatkan negara-negara yang menguasai dunia hampir dalam segala lini kehidupan. Amerika sebagai negara terkuat dunia, dengan penguasaan 26.11% GDP dunia, dengan kekuatan militer yang dahsyat saja menjadi loyo oleh kekuatan tersembunyi (hidden power) itu, apalagi negara-negara lain. 


Namun perlu saya sampaikan bahwa kekuatan tersembunyi itu sesungguhnya lemah. Kalau dalam bahasa Al-Quran: “maa lahaa min qaraar” (tidak memiliki fondasi yang stabil). Mereka goyah, goncang, dan menanggung rasa takut yang tiada berkesudahan. Seringkali kekuatan mereka lebih terbangun melalui “imej dan persepsi”. Seolah mereka kuat dan bisa menentukan arah pergerakan dunia.


Justeru harusnya diketahui bahwa perasaan aman dan kuat mereka saat ini semakin terbangun justeru karena sebagian dunia Islam dengan suka rela atau dipaksa oleh keadaan mengulurkan tangan-tangan mereka kepada kekuatan tersembunyi itu. Mereka saat ini merasa berada di atas angin karena mampu menjadikan dunia Islam berpihak, atau minimal diam di hadapan kekerasan dan genosida yang mereka lakukan. 


Karenanya sekali lagi, kunci solusi ada di tangan Umat dan dunia Islam. Dan satu hal yang terpenting yang dunia Islam harus lakukan adalah “amputasi” semua relasi dengan zionis penjajah dan pembantu-pembantunya. Dan dalam proses ini dunia Islam harus membangun kesatuan dan kebersamaan. Dengan jumlah 57 negara mayoritas Muslim dan kekayaan alam yang dahsyat menjadi daya tawar yang besar untuk melemahkan posisi “hidden power” itu. 


Masanya dunia Islam untuk merubah budaya jadi pahlawan dadakan dengan sekali pidato berapi-api dalam pertemuan tingkat tinggi. Dunia Islam harus menghadirkan rencana yang terstruktur (structured plan) dan dibawa ke rana aksi yang nyata (action) untuk memerdekakan Palestina dan Masjidil Aqsa. Hentikan kutukan-kutukan yang kini seolah menjadi nyanyian sumbang yang tidak lagi didengarkan dan membosankan. 


Otherwise, shame on you all!  

Manhattan, 3 April 2025

Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال