Urgensi Istiqamah Pasca Ramadan

Urgensi Istiqamah Pasca Ramadan

 

Imam Shamsi Ali

Ramadan, bulan yang penuh kebaikan dan keberkahan itu baru saja berlalu. Umat Muhammad sedunia serasa berbelasungkawa dengan kepergiannya. Dengan berlalunya Ramadan seolah-olah ragam pintu kebaikan dan kemenangan tertutup kembali. 


Tapi itu hanya perasaan saja. Karena pastinya pintu-pintu kebaikan dan keberkahan sejatinya tidak terhenti walau bulannya telah berlalu. Karena dalam Islam kebaikan-kebaikan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Yang berbeda hanya volume dan motivasinya. 


Urgensi istiqamah dalam kebaikan 


Istiqamah adalah salah satu konsep dalam Islam yang mengajarkan jika kebaikan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Tapi mengharuskan sustainabilitas (keberlanjutan). Ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah SAW jelas menggaris bawahi urgensinya. 


Bahkan secara implisit ayat perintah menyembah (beribadah) Allah hingga akhir hayat: “dan sembahkah Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan (kematian)” maupin ayat  “dan janganlah kamu meninggal kecuali dalam keadaan Muslim, keduanya menekankan makna istiqamah itu. 


Istiqamah dapat dimaknai sebagai komitmen penuh, keseriusan, persistensi, kesabaran, konsistensi, aksi dan keberlanjutan. Bahkan istiqamah sesungguhnya juga mengandung makna pembuktian iman dan dorongan hati yang hakiki (keikhlasan). 


Jika kita melihat secara jeli semua ibadah dalam Islam, akan didapati bahwa keberhasilan ibadah-ibadah itu mengharuskan adanya istiqamah atau follow up. Jika tidak maka ibadah hanya menjadi kegiatan rutin yang sekedar bertujuan melepaskan tanggung jawab kewajiban. 


Ambillah sebagai contoh Sholat. Segala sesuatu yang terkait dengan Sholat, dari wudhu ke Kiblat, ke takbir, ruku’ sujud, hingga ke bacaan dan salam ke kanan dan ke kiri, semuanya menuntut keistiqamahan. 


Wudhu itu menuntut keistiqamahan dalam kesucian hidup secara menyeluruh. Tangan, wajah, mulut, kepala (pikiran), hingga kaki harus sejalan dengan nilai-nilai kesucian. Apalah makna mencuci tangan tapi hak orang kita rampas. Apalah makna mencuci mulut tapi darinya keluar kata-kata kotor. Apalah makna mencuci kaki namun kaki ini membawa perjalanan hidup ini ke hal-hal yang penuh kotoran. 


Kiblat adalah simbol orientasi hidup yang tunggal (lillah ta’ala). Ruku’ sujud kita adalah simbol ketawadhuan kepada Allah dan sesama. Hingga salam adalah komitmen menyebarkan perdamaian ke semua pihak di alam raya.


Istiqamah dengan Puasa Ramadan


Ramadan sebagai “waktu” (bulan) telah berlalu. Namun semangat dan kejiwaan yang terkandung di dalamnya tetap berlanjut. Semangat dan kejiwaan Ramadan inilah yang akan menjadi motivasi bagi kita melanjutkan segala kebaikan yang ada di bulan yang telah berlalu itu. 


Kali ini saya mencatat lima hal penting yang harus berlanjut pasca bulan Ramadan. 


Pertama, koneksi hati dengan Pencipta. Kita diingatkan bahwa selama Ramadan hati orang beriman secara terus menerus terkoneksi dengan Allah melalui ragam amalan ibadah. Dari sahur ke sahur, puasa, tarawih, qiyamul lael, hingga ke bacaan Al-Quran, dzikir dan doa-doa yang kita panjatkan semuanya mengaitkan hati kita dengan Allah SWT. 


Karenanya jangan sampai berlalunya bulan Ramadan, hati kita kembali kosong dari mengingat Allah SWT. Hanya dengan koneksi hati dengan Allah akan terjadi ketakwaan menjalan perintah-perintah dan meninggalkan larangan-larangan Allah SWT. 


Kedua, semangat imsak atau pengendalian. Hidup dunia ini identik dengan dorongan hawa nafsu. Tanpa hawa nafsu manusia mati suri. Hanya saja dorongan hawa nafsu ini harus dikendalikan agar tidak berubah jadi tuhan-tuhan kerdil kehidupan. Pengendalian inilah yang disebut imsak sebagai esensi dari puasa. 


Jangan sampai Ramadan berakhir lalu pengendalian hawa nafsu juga menjadi tumbang. Jika itu terjadi maka kita akan terjatuh kembali ke dalam penghambaan hawa nafsu yang mengantar kepada kerusakan-kerusakan dalam kehidupan manusia. 

Ketiga, hubungan kekeluargaan (silaturrahim). Kemajuan teknologi khususnya di bidang komunikasi menjadi jurang pemisah komunikasi antar manusia. Tentu ini sebuah paradoks. Hadirnya berbagai alat komunikasi justeru menjadi “gap komunikasi” antar manusia, termasuk antar anggota keluarga. Gap komunikasi ini mengantar kepada hubungan yang terasa tawar dan renggang di antara anggota keluarga. 


Karenanya setelah berlalunya Ramadan, semangat membangun komunikasi dan relasi yang dekat dengan sesama keluarga harus terus diintensifkan. Mungkin perlu direncanakan untuk kembali minimal makan malam bersama sebagaimana kehidupan kita di masa lalu di kampung-kampung.


Keempat, Perhatian keumatan secara global. Berbagai permasalahan yang menimpa umat di berbagai belahan dunia, khususnya di Gaza Palestina, harus terus menjadi bagi dari perhatian dan kepedulian kita. Ramadan mengajarkan semangat kebersamaan dan persatuan dengan berbagai amalan ibadah. Hal ini tentunya mengajarkan kita untuk membangun semangat solidaritas dan persatuan global keumatan kita. 


Jangan sampai Ramadan berlalu kepedulian itu hilang. Kita tidak lagi memiliki tenggang rasa dan solidaritas kepada sesama umat yang menjadi bagian dari diri kita (jasad wahid). Kita menjadi diam dan tak peduli dengan pembantaian massal dan genosida yang menimpa saudara-saudara kita di Gaza. 


Kelima, Penguatan Komunitas. Untuk mampu secara efektif melakukan pembelaan kepada saudara-saudara kita yang terzholimi seperti di Gaza, Komunitas Muslim harus kuat san berdaya. Selama Ramadan komunitas kita melakukan banyak hal untuk self


Empowerment ini. Dari kegiatan-kegiatan ritual, sosial, hingga ke berbagai kegiatan Komunitas secara luas, semua dimaksudkan untuk memberdayakan dan menguatkan Komunitas kita. 


Saat ini Komunitas Muslim di Amerika menghadapi tantangan yang tidak mudah. Ada Islamophobia yang mendapat (indirectly) systemic support (dukungan sistem). Saudara-Saudara kita yang menyuarakan pembelaan kepada Palestina ditekan, diitimidasi bahkan ditangkapi dan dideportasi. Sebagai bagian dari semangat Ramadan, Komunitas Muslim harus terus menyuarakan kebenaran dan keadilan. 


Menyuarakan kebenaran dan keadilan adalah bagian dari kontribusi Umat untuk menjadikan Amerika “great again”. Karena saya yakin Amerikan akan hebat bukan dengan perpecahan dan rasisme. Tapi dengan persatuan dan konsistensi kepada  nilai-nilai Amerika yang dibanggakan; freedom and justice for all. 


Sekali lagi, Eid Mubarak! 

NYC Subway, 1 April 2025 

Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundation

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال